Senin, 03 Desember 2018

Disiplin Kelas Berbasis Karakter


  1. Pengertian Displin Kelas Berbasis Karakter

Disiplin kelas berbasis karakter ini berasal dari beberapa kata, yaitu disiplin, kelas, dan karakter.

  • Pengertian Disiplin

a. Displin ialah suatu sikap menghormati, menghargai, patuh dan taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku, baik yang tertulis maupun tidak tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak mengelak untuk menerima sanksi-sanksinya apabila ia melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya. (Siswanto, 2001)
b. Disiplin ialah suatu kemauan dan perbuatan seseorang dalam mematuhi seluruh peraturan yang telah terangkai dengan tujuan tertentu. (John Macquarrie)

Sehingga dapat disimpulkan bahwa disiplin adalah perasaan taat dan patuh terhadap peraturan  yang berlaku dengan tujuan tertentu.


  • Pengertian Kelas 

a. Kelas dalam arti sempit, yaitu ruangan yang dibatasi oleh empat dinding tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses pembelajaran.
b. Kelas dalam arti luas, adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang sebagai satu kesatuan diorganisir menjadi unit kerja secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa kelas merupakan suatu ruangan yang dibatasi empat dinding yang memiliki fungsi sebagai tempat kegiatan tatap muka dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) untuk mencapai suatu tujuan.


  • Pengertian Karakter

a. Karakter merupakan sifat kejiwaan, akhlak, serta budi pekerti yang dimiliki seseorang yang membuatnya berbeda dibandingkan dengan orang lainnya. (Kamisa)
b. Karakter merupakan kepribadian yang dapat dilihat dari titik moral maupun tolak etis. (Gulo W)

Sehingga dapat disimpulkan bahwa karakter adalah watak, sifat, akhlak ataupun kepribadian yang membedakan seorang individu dengan individu lainnya.


  • Pengertian Disiplin Kelas Berbasis Karakter

Sesuai dengan penjelasan mengenai pengertian dari kata disiplin, kelas, dan karakter. Jadi, disiplin kelas berbasis karakter adalah watak, sifat, akhlak ataupun kepribadian terkait ketaatan dan kepatuhan seseorang dalam nilai-nilai yang dipercaya dan menjadi tanggung jawab dalam sebuah ruangan di sekolah. Sehingga pendidikan karakter menegaskan bahwa apabila pembelajaran di kelas  ingin berhasil, maka harus mengubah sikap mereka, cara berfikir dan cara merasa mereka. Disiplin harus mengarahkan mereka untuk ingin berprilaku berbeda. Disiplin harus membantu mereka mengembangkan kebaikan berupa rasa hormat, empati, simpati, penilaian yang baik, dan control diri, dan lain-lain yang tidak mengarah kepermasalah disiplin. Apabila kebaikan tersebut tidak dikembangkan, maka tidak akan terciptanya disiplin kelas yang berbasis karakter. Maksud disiplin disini peserta didik secara sadar mampu melakukan kewajibannya, akan tetapi bukan adanya punishment (hukuman) namun ia mengetahui pentingnya disiplin dalam melakukan kewajibannya selain itu peserta didik mengetahui manfaat dari itu semua dan akan kembali kepada dirinya yang nantinya berguna untuk mencapai kesuksesannya dimasa depan.

2. Cara Membangun Disiplin Kelas Berbasis Karakter
Pemerintah telah menetapkan sebuah kebijakan bahwa lulusan sekolah saat ini harus memiliki nilai-nilai karakter. Pembentukan karakter dapat dilakukan melalui proses pendisiplinan. Disiplin berbasis karakter ini sangat penting bagi pendidikan karakter, apabila ingin pembelajarannya berhasil maka seorang guru harus mengubah peserta didiknya untuk lebih baik agar sesuai yang diharapkan. Akan tetapi karakter yang diharapkan disini bukan sebagai sebuah cara untuk membentuk karakter siswa, namun diharapkan ia dapat menjadi sebuah karakter yang melekat dalam diri siswa. Ketika hal ini sudah terjadi, maka siswa secara sadar melakukan kewajibannya. Ia melakukan itu bukan karena ia mengetahui pentingnya disiplin dalam melakukan kewajiban itu. Ia sudah mengetahui manfaat dari itu semua akan kembali kepada dirinya yang nantinya berguna untukmencapai kesuksesannya dimasa depan.  Dengan ini mengubah peserta didik untuk lebih baik bukanlah hal yang mudah, sehingga seorang guru harus melakukan suatu pendisiplinan. Nah dibawah ini akan dibahas mengenai beberapa cara untuk membangun disiplin kelas yang berbasis karakter diantaranya:


  • Berbagi Agenda

Agenda guru merupakan buku catatan yang berupa acara-acara yang akan di laksanakan dalam sebuah pembelajaran. Agenda guru ini berarti guru memberikan materi kepada peserta didik, namun agenda peserta didik adalah bukan mempelajari materi tersebut, akan tetapi untuk memahami agenda intruksional yang ada. Salah satu cara melakukannya adalah dengan menjelaskan kepada peserta didik tujuan pembelajaran yang diberikan, dasar pemikirannya, dan pola pembelajaran yang akan digunakan guru untuk mencapai tujuan. Guru dalam menjelaskan tujuan pembelajaran harus dapat dipahami peserta didik salah satu contohnya dengan mengajukan pertanyaan, misalnya :
“apa yang akan kita pelajari hari ini?”
“mengapa penting bari kita untuk mengetahuinya?”
“bagaimana kita akan mempelajarinya?”
Dengan adanya pertanyaan seperti itu maka peserta didik akan paham terhadap materi yang akan disampaikan. Karena mereka tahu akan tujuan pembelajarnnya. Sehingga peserta didik mengetahui arah pembelajaran yang akan dilakukannya. Jadi peserta didik tidak banyak memikirkan apa yang akan dipelajarinya. Apabila agenda yang dilakukan oleh guru tidak           vcdipahami peserta didik maka pembelajaran akan berlangsung dengan kacau karena tidak ada intruksi yang jelas. Sehingga seorang guru harus mampu memberikan pemahaman kepada semua peserta didik terkait tujuan pembelajaran yang akan disampaikannya.


  • Libatkan Peserta didik Dalam Membuat Aturan

Aturan merupakan tindakan atau perbuatan yang harus dijalankan. Sehingga untuk membuat aturan ini harus melibatkan peserta didik supaya mereka merasa dihargai dan diperlakukan secara adil, karena aturan ini harus disepakati dan dijalankan, apabila tidak dijalankan akan mendapatkan konsekuensinya. Nah apabila peserta didik di libatkan maka dia akan paham karna yang membuat aturan serta konsekuensinya mereka sepakati. Misalnya seorang guru membuat beberapa kelompok untuk berdiskusi terkait aturan atau tata tertib yang harus dipatuhi di dalam kelas serta konsekuensinya. Kemudian hasil dari diskusi kelompok tersebut di presentasikan dengan bimbingan guru kemudian ditulis. Mana aturan yang harus ditetapkan, di tambahkan, atau di hapuskan. Akan tetapi guru memberikan penjelasan mengenai keputusan yang disepakati bersamanya sehingga peserta didik paham akan aturan yang di tegakkan.


  • Berbagi Rencana Dengan Orang Tua

Rencana merupakan pengambilan keputusan tentang apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Dengan ini seorang guru harus membuat sebuah rencana untuk untuk mencapai tujuan. Salah satunya dengan rencana pendisiplinan. Ditingkat Sekolah Dasar, dalam menerapkan sebuah perencanaan kedisiplinan guru harus menjelaskan mengenai aturan yang ada di dalam kelas beserta konsekuensinya selain itu guru juga harus membuat salinan rencana disiplin itu kemudian diberikan kepada orang tua di awal tahun pembelajaran. Sehingga nantinya guru dapat meminta bantuan kepada orang tua di titik tertentu dalam memecahkan sebuah permasalahan yang terjadi, karena orang tua telah mengetahui dan menyepakati sebelumnya aturan yang telah dibuat oleh guru bersama anak-anaknya. Selain itu orang tua juga dapat mengawasi dan memberitahu kepada anaknya terhadap perilaku anaknya yang sekiranya menyimpang. Sehingga orang tua akan membantu guru untuk menjalankan rencana yang telah di susun sesuai dengan harapan.


  • Gunakan Bahasa Yang Baik

Menurut Linda Popov dalam the vitures project educator’s guide bahwa bahasa kebaikan dapat membentuk karakter. Bahasa kebaikan dapat digunakan untuk memuji peserta didik, misalnya kerja kamu bagus, kamu anak yang rajin, tingkatkan prestasimu, dan lain-lain. Selain itu bahasa kebaikan juga dapat di gunakan untuk mengkoreksi atau mengarahkan kembali perilaku yang baik dalam melihat sebuah permasalahan bahasa kebaikan digunakan untuk mengarahkan peserta didik anda dalam sudut pandang yang positif. Janganlah memakai sudut pandang subyektif dalam menilai sebuah permasalahan, namun dengarkanlah terlebih dahulu sudut pandang orang yang anda ajak bicara. Setelah melihat dari sudut pandangnya, jika ada yang kurang tepat maka dekati dan giringlah ia menuju kebaikan dengan bimbingan serta bahasa yang baik.
Apabila seorang peserta didik melakukan kesalahan dan gurunya malah memaki, pembentukan karakter peserta didik itu tidak akan sesuai dengan apa yang diharapkan, karena dengan itu peserta didik akan lebih berontak dibanding menuruti gurunya. Karena dia akan berpikir bahwa yang peserta didik itu lakukan adalah benar menurut sudut pandangnya dan orang lain tidak akan merasakan apa yang ia rasakan.


  • Membantu Peserta didik Belajar Dari Kesalahan

Setiap orang pasti melakukan kesalahan terutama peserta didik. Seorang guru harus mampu mengajarkan kepada peserta didik bagaimana mereka mengakui kesalahan yang mereka lakukan, kemudian guru membimbing peserta didik untuk belajar dari kesalahan tersebut kemudian memperbaikinya dan menghindari peserta didik terjebak kepada kesalahan yang sama.


  • Membantu Para Peserta didik Membuat Rencana Perubahan Perilaku 

Ketika sebuah pelanggaran dari aturan yang dibuat terjadi, bahkan jika terjadi untuk yang kedua atau ketiga kalinya, seorang guru harus dapat membantu peserta didik untuk membuat rencana perubahan perilaku secara tertulis. Rencana tersebut berisi peraturan apa yang dia langgar, kapan ia melanggarnya, apa rencana yang akan ia lakukan untuk memperbaiki pelanggaran tersebut, serta apakah rencana tersebut telah berhasil.
Dengan adanya sebuah rencana perubahan perilaku dan dorongan dari guru maka peserta didik akan merasa dihargai dan malu untuk membuat kesalahan apalagi dengan ditulis dan dibuat sebuah rencana pasti akan adanya sebuah dorongan untuk peserta didik tersebut.


  • Bahaslah Mengapa Perilaku Itu Salah

Ketika seorang peserta didik melakukan sebuah kesalahan, jangan hanya sekedar memberi hukuman. Namun bicarakan kepada mereka mengapa perbuatan itu salah serta dampak apa saja yang akan mereka tanggung dengan melakukan perbuatan yang salah tersebut.
Untuk menjelaskan perbuatan tersebut itu salah maka seorang guru bisa menggunakan sebuah cerita tokoh yang pernah melakukan kesalahan yang sama dan akibat yang tokoh tersebut terima ketika melakukan kesalahan tersebut, sehingga peserta didik menjadikan cerita tokoh tersebut sebagai sebuah cerminan baginya.


  • Berikan Tanggung Jawab Kepada Anak Yang Sulit Di Atur

Ketika mengahapi anak yang sulit diatur, pemberian hukuman bukanlah solusi yang baik. Dalam hal ini yang bisa seorang guru lakukan adalah dengan memberi sebuah tanggung jawab kepada anak tersebut. Tanggung jawab merupakan kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan baik yang disengaja ataupun tidak disengaja. Dengan pemberian tanggung jawab tersebut dapat dipandang lebih mampu untuk membentuk karakter anak. Dalam melaksanakan tugas tersebut tentunya harus disertai dengan pendampingan seorang guru yang memiliki sikap dewasa, tegas, dan mampu bekerjasama dengannya, penuh kasi sayang, dan dapat memahami karakter anak tersebut.

harti jeung contona dongeng, sajak jeung carpon


1.       Dongeng nyaéta wangun karya sastra anu mangrupa carita dina basa lancaran anu eusina ngandung unsur pamohalan (teu asup akal).  Rupi-rupi dongeng
·         Fabel (dongeng anu nyaritakeun sasatoan)
·         Parabel (dongeng anu nyaritakeun kahirupan anu umumna janten ciri hiji tempat)
·         (dongeng anu nyaritakeun sasatoan)
·         Myte (dongeng anu nyaritakeun halna mistis/gaib)
·         Sage (dongeng anu nyaritakeun kapahlawanan)
·         Sasakal (dongeng anu nyaritakeun asal muasal tempat, barang, atawa tempat)

DONGENG
SAKADANG KUYA SILIH DURUK JEUNG MAUNG

DINA hiji poé Sakadang Kuya ulin ka sisi basisir. Manéhna cicing handapeun tangkal kalapa, katebak ku angin laut. Aya ku nimat. Bakating ku genah, nepi ka nundutan.

Keur kitu, teu kanyahoan ti tadina, torojol Sakadang Maung, ngomong tarik ngagareuwahkeun anu keur anteng nundutan.

“Ha ha ha, kabeneran, aing keur lapar manggih hakaneun!” pokna bari ngadeukeutan Sakadang Kuya.

Sakadang Kuya reuwas kacida. Tapi teu bisa nyumput atawa lumpat. Dina biasa ogé kétang, kateuteu ari, da angger bakal katéwak ku Sakadang Maung anu kaceluk tarik lumpatna.



“Ké heula, Sakadang Maung,” ceuk Sakadang Kuya, neger-neger manéh.

“Naon deui? Anu jelas, sia bakal jadi eusi kadut aing!” ceuk Sakadang Maung, ngomongna angger bedas dibarung ku ngagerem sagala. “Ti kamari aing can baranghakan. Lumayan kuya kolot ogé!”

“Sabar, Sakadang Maung, sabar,” ceuk Sakadang Kuya, ngomongna leuleuy, “Lamun mémang geus waktuna jadi hakaneun anjeun, uing mah rido. Katambah uing sorangan geus kolot, geus bosen hirup. Ngan anjeun kudu nyaho, daging uing téh tiis jeung hampos. Lamun hayang ngeunah jeung gurih, euweuh deui carana, uing kudu diduruk heula.”

“Diduruk heula? Kumaha carana?” ceuk Sakadang Maung.

“Gampang atuh. Awak uing bugbrugan ku suluh, tuluy duruk.”

“Ari suluhna ti mana?”

“Ngala ka leuweung!”

“Ngala ka leuweung? Ha ha ha aing apal kana akal licik sia, dasar kuya! Waktu aing ka leuweung néangan suluh, sia rék kabur! Aing moal bisa katipo deuleu!” ceuk Sakadang Maung.

“Bisi anjeun teu percaya mah, pék tah talian awak uing, tuluy cangcang kana tangkal!” témbal Sakadang Kuya.

“Heug atuh ari kitu mah!” ceuk Sakadang Maung. Tuluy néangan areuy keur nalian kuya. Geus manggih, reketek awak Sakadang Kuya téh ditalian. Tungtung talina ditalikeun kana tangkal kalapa. Ngahaja talina dipanjangan, da kitu paménta Sakadang Kuya téh. Sanggeus yakin talina pageuh, Sakadang Maung indit ka leuweung rék ngala suluh.

Sabot Sakadang Maung ka leuweung, buru-buru Sakadang Kuya nyieun liang dina keusik. Liangna kawilang jero ogé, gedéna sapaseun awakna. Tuluy manéhna cicing dina luhureun éta liang, nepi ka henteu kaciri aya liang.

Jol Sakadang Maung manggul suluh, tuluy dibugbrugkeun kana awak Sakadang Kuya. Gur baé sukuh téh diseungeut. Teu hésé teurakna seuneu téh, kawantu suluh gararing. Sakeudeung ogé seuneuna geus ngabebela, teu bina ti nu keur nyieun api unggun. Ari Sakadang Kuya, barang durukan hurung téh, terus baé mubus kana liang anu aya di handapeunana.

“Sakadang Kuya!” ceuk Sakadang Maung.

“Kuk!”

“Can paéh?”

“Encan, seuneuna kurang gedé.”

Suluhna ditambahan deui.

“Sakadang Kuya!”

“Kuk!”

“Can paéh kénéh?”

“Encan, anéh di dieu mah seuneu téh bet haneut!” témbal Sakadang Kuya.

Suluhna ditambahan deui.

“Sakadang Kuya!”

Sakadang Kuya teu némbalan.

“Ah, jigana ayeuna mah geus paéh Sakadang Kuya téh.”

Barang durukan geus pareum, Sakadang Maung kurah-koréh kana durukan, néangan daging kuya. Keur kitu, Sakadang Kuya ngurumuy tina jero lebu durukan. Awakna jadi bodas ku lebu.

“Sakadang Kuya, geuning sia hirup kénéh?” ceul Sakadang Maung kacida kagétna.

“Puguh ceuk uing gé tadi, seuneuna téh jadi haneut di lebah dieu mah!” témbal Sakadang Kuya kalem.

“Baruk tiis nya?” ceuk Sakadang Maung deui bari nilik-nilik awak Sakadang Kuya. “Jeung deui awak silaing jadi bodas kitu? Asa leuwih kasép euy!”

Sakadang Kuya mésem. Pok ngomong, “Sakadang Maung hayang siga kuring?”

“Ih, puguh wé, ti baheula aing téh hayang boga kulit bodas. Meureun bakal leuwih tegep, nya!”

“Tangtu wé atuh. Komo Sakadang Maung mah, lamun boga kulit bodas téh, bakal leuwih gagah jeung kasép. Ayeuna ogé cacakan coréléng geus tegep.”

“Bisa kitu mun kulit uing hayang bodas kawas siliang ayeuna?” ceuk Sakadang Maung, rada sopan ayeuna ngomongna téh, teu uang-aing teuing.

“Nya bisa atuh, asal daék diduruk wé siga uing tadi,” ceuk Sakadang Kuya.

“Diduruk? Moal panas kitu?”

“Moal. Apan uing ogé henteu nanaon, malah kulit jadi bodas,” témbal Sakadang Kuya. “Lamun arék, jung atuh néangan suluhna heula!”

Teu loba tatanya deui, Sakadang Maung indit ka leuweung rék ngala suluh. Meunang sawatara lilana, Sakadang Maung datang bari manggul suluh gararing.

“Pék ngagolér di dinya, ku uing urang bugbrugan ku suluh!” ceuk Sakadang Kuya.

Sakadang Maung ngagolér, tuluy dibugbrugan ku suluh. Sut atuh suluh diseungeut. Jegur baé hurung, tangka ngabebela.

“Sakadang Maung!”

“Heuy!”

“Hirup kénéh?”

“Hirup, euy, ngan panas geuning!”

“Panas sotéh mimitina, engké mah moal geura.”

Suluhna ditambahan deui. Geus sawatara lilana, ditanya deui ku Sakadang Kuya.

“Sakadang Maung, hirup kénéh?”

“Hirup euy, ngan panas,” témbal Sakadang Maung, sorana ngalaunan.

Suluhna ditambahan deui. Geus sawatara lilana, ditanya deui ku Sakadang Kuya.

“Sakadang Maung, hirup kénéh?”

“Iup, han hanas heuy …,” Sakadang Maung némbal, sorana beuki teu kadéngé baé.

Teu talangké, suluhna dibugbrugan deui. Sanggeus sawatara lilana, pok ditanya deui ku Sakadang Kuya.

“Sakadang Maung, hirup kénéh euy?”

Sakadang Maung teu némbalan.

“Lah, kawasna mah geus paéh Si Belang téh,” ceuk Sakadang Kuya.

Teu lila kadéngé sora tingbeletuk tina durukan. Sirah jeung awak Sakadang Maung baritu. Kambeu deuih bau hangit daging jeung kulit anu kaduruk.

“Yakin geus paéh Si Belang téh. Keun, itung-itung wawalesna ka sato anu sok ngahakanan sato laleutik,” ceuk Sakadang Kuya.



2.       Sajak nyaéta sastra wangun ugeran (puisi) anu teu kauger ku patokan-patokan. Sajak henteu kauger ku jumlah padalisan (baris, jajaran) dina sapadana, jumlah egang dina unggal pada (bait) atawa sora tungtung dina unggal padalisan (jajaran) upama rék nulis sajak kudu nangtukeun jejer milih kecap nu luyu, jeung maké basa nu singget sarta jelas.
SAJAK
GUPAY LEMBUR
Ku: Nano S.

Gupay-gupay panineungan kiwari nembongan deui
Basa rek ningalkeun lembur, rek miang tolabul ilmi
Kacipta Ema jeung Bapa, gugay jajap pangharepan
Di bandung muga sing jucung, gancang mulang ka sarakan

Gupay-gupay panineungan kiwari nembongan deui
Basa beus ninggalkeun stanplat, hae mah puguh tibelat
Kacipta cisoca Ema, nu rambisak kingkin sedih
Pileuleuyan dayeuh Garut, kapaksa urang papisah

Munggaran hirup di Bandung
Beungeut lembur kapigandrung
Disusukan marak lauk
Balap ngojay ulin leutak
Luhur pasir peperangan
Hanaang ngala duwegan

Lalakon manjang di Bandung
Lembur ngan ukur galindeng
Duriat ngan dina lebaran
Betah ditempat ngumbara
Pageuh jeung adeg sawawa

Gupay-gupay panineungan kiwari nembongan deui
Katingtrim hirup dilembur ngahariring ngajak mulang
Kacipta Ema jeung Bapa, nelengnengkung nimbang incu
Ngan hanjakal sagalana, nu di jugjug geus teu aya



3.       Carpon mangrupakeun karya sastra wangun lancaran atawa prosa. Carpon oge nyaéta kajadian atawa sabagian tina kajadian anu dicaritakeun ku pangarang kalayan daria, puguh anu diteupikeun na karasa ayana hiji masalah, puguh tokoh atawa nu ngalakonna bari ninggalkeun kesan keur nu maca. Contona carpon kanyaah kolot
CARPON
KANYAAH KOLOT

Da ari Abah mah, pun bapa, tara seueur cumarios ka palaputrana teh. Estu duk cinungkul milari pakasaban kanggo ngahontal kawajiban salaku tetengger kulawarga. Papagah ka putra nu opatan teh tara ku lisan, tapi langsung ku prakna. Miwarang solat ku prakna nu teu kendat-kendat. Upami ningali polah palaputrana nu teu sapagodos jeung ajen kaagamaan, seseringna sok miwarang Emih, pun biang, sangkan ngadugikeun ka kuring sadulur-dulur. Kajeun nu rek dipapagahanana aya peyuneun, eh Emih heula.
“Bejakeun ka Si Asep, ulah sok ulin wae. Maenya balik sakola wayah kieu!” sauma. Harita kuring SMP keneh. Basa Abah nyarios ka Emih teh kuring ngabanding gedengeunana.
          Kilang kitu, abah teh ageung pisan wibawana payuneun palaputrana mah. Eta we, mun aya diantara kuring sadudulur nyieun kasalahan, nu pangdipikasieun ku sarerea teh dibenduan ku Abah. Padahal sarerea ge can aya nu ngalaman diseuseukan ku Abah.
          Inget we, hiji mangsa mah memeh asup sakola kuring ngojay bari huhujanan di balong tatangga. Balik teh bucis bari baju ledok ku letak. Abah ukur nyarios, “Ulah sok ngojay di balong bari huhujanan, bisi gering!” saurna. Na atuda nepi ka kiwari, geus laki rabi, berekah kuring mah teu bisa ngojay deui. Padahal harita ku Abah teu disentak teu sing. Kitu deui basa suku kuring potong lantaran ragrag tina tangkal kai, Abah teu seueur nyarios. Gura-giru nyandak kuring ka rumah sakit. Ngan sakitu-kituna.
          Kacida lobana kalakuan kuring nu ngaripukeun ka Abah sareng ka Emih. Kapan kuring mah kungsi kajugak ku gagajahan nepi ka dioperasi leungeun katuhu ge kungsi potong dua kali, ku nalaktak-nalaktakna. Komo labuh tina motormah, geus teu kaitung. Basa kuring tikusruk tina motor, abah ukur nyarios kieu, “Matak ge ari tumpak motor sik ati-ati, ulah ngebut,” cenah. Peun weh.
          Sainget kuring, abah teh tara neyesep. Tapi saur Emih mah, samemeh kuring lahir, nyesep teh ngadatu pisan. Ari rokona, nganggo pahpir Sok ngahaja ngagaleuh roko kretek, tara saeutik, sok sabos. Tuluy diudar digalokeun jeung bako, kakara dilinting make pahpir. Ka lanceuk-lanceuk sok ngomat-ngomatan ulah ngaroko. Komo ka kuringmah. Ngan teuing kumaha, dina perkara nu hiji ieu mah kuring teh estuning norek kacida, Ti SDkeneh kuring mah geus nyerebung. Kungsi katohyan ku Abah sareng Emih. Ana pok teh, “leuh, bejakeun ka Si Asep, ulah sok ngaroko kituh.” Saurna ka Emih. Ka kuring mah teu ngareret-reret acan.
          Ari Emih, bet sabalikna ti Abah. Cawehwer saban geureuh. Mun hudang kabeurangan teh, langsung ngagerewek, “Geura hudang! Solat kaituh! Hayang ka Naraka!” cenah.
          Emih mah sasauran kitu teh jiga nu taya kabosen. Satutasna kuring laki-rabi ge, mun uningaeun teu solat, sok tuluy ngagebes.”Ari maneh Asep, ngedul pisan kana solat teh! Keur naon duk cinukul neangan duit maraban anak pamajikan tapi cul kana ibadah. Euwuh hartina!” cenah. Tara cukup ku sakitu, da sok tuluy ngagelendut mapagahan.
          Basa putuna ti kuring lahir. Abah katarajang darah tinggi nu cenah nyaliara kana jajantung. Sabelas bulan diganggayong kasakit, antuk na Abah kasoran. Dipundut Ku Nu Kagungan basa nuju dirawat di rumah sakit. Harita kuring teu nungkulan. Aya amanatna nu didugikeun ku Emih. Saurna, kuring kudu jadi pagawe negri.
          Cenah basa di rumah sakit teh ngan wungkul nyarioskeun kuring. Pangpangna mah kabedegongan kuring pedah aktip di partey pulitik anu teu sapagodos jeung pamarentahan Orde Baru. Harita kuring sababaraha kali dipanggil ku aparat. Estuning matak ngaruntagkeun manah Abah sareng Emih wungkul. Najan kitu, bubuhan ka putra meureun, dina pemilu nu pamungkas kanggo Abah, anjeunna teu wudu nyolok gambar partey kuring. Kitu deui emih. Malah emih mah make jeung sok ngiring ngilungan sagala rupa. Majar teh, Alhamdullilah Si Asep mah ti parteyna meunang gaji nu lumayan. Mun ngobrol jeung tatangga eta teh. Buruk-buruk papan jati, ka putra mah jigana teh teu weleh nyaah najan sakumaha basangkalna ge.
          Tangtu wae kuring sedih, kabina-bina malah. Nepi ka ragrag cipanon. Bari ramisak teh hatemah tuluy ngocoblak nyarekan diri sorangan nu can bisa mulan gtarima ka Abah. Nyeri hate teh, nyeri pisan. Nepi ka asa nyanyautan.
          Jasa-jasa Abah salila ngadengekeun kuring, ngadadak tingjungkiring dina kongkolak panon. Kuring ngarasa, sanajan sakabeh banda ditamplokeun atawa salaksa du’a dikirimkeun sangkan Abah kenging pangampura ti Nu Maha Kawasa, asana moal saimbang jeung jasa Abah.
          Sadikantunkeunana ku Abah, Emih kaciri leungiteunana teh. Emih teh tangtos leugiteun ku batur pakumaha, lian ti leungiteun ku anu ngabayuan teh. Harita Emih tuluy dadangan, keur nalang-nalang waragad sapopoe. Kituna teh jigana lain pedah melang ku beuteung sorangan, tapi pangpangnamah ku kuring. Harita kuring can boga cabak nu matuh. Hirup can dumuk jeung aturan. Baju asal rap, buuk gondrong tara ngambeu sisir, mun geus kaluar ti imah tara inget kana balik.
          Remen kuring manggihan Emih ngembeng cisoca. Komo mun ningali si cikal, anak kuring, anu keur meumeujeuhna samar kahayang heug tara kacumponan, cisoca Emih langsung murubut.
          “Emih mah mun ningal budak maneh,… lah kahayangmah gede. Mun kaduga mah hayang bisa mere siga batur. Tapi da kumaha geunging Emih maneh mah teu bisa nanaon,” cenah. Soantenna dareuda.
          Mun geus kitu teh biwir sok ngadadak ada dikonci. Teu bisa nyarita sanajan hate mah ngocoblak salaksa basa. Teu kuat nahan rasa. Biasana kuring sok tuluy lunya, ngabeberah rasa, nuturkeun indung suku ka mana leosna.
          Ku pantengna du’a indung, kuring bisa mukakeun lawang kahirupan. Lalakon diri pinanggih jeung harepan indung. Tina aktivis partey nu teu puguh tuturkeuneun kulawarga, kuring pinanggih jeung kasab nu loyog jeung hate. Emih kacida gumbirana basa uningaeun putra bungsuna nu teu weleh jadi kembang kahariwang teh, pinareungan kekolomkeun ka golongan jalma jeneng. Kabingah Emih lain pedah ngahareupkeun pamulang tarima ti nu jadi anak, tapi gegedena mah pedah kuring geus bisa ngabayuan kulawarga tina ladang kesang sorangan.
          Naha Emih nyuhunkeun sakecret dunya? Saperak ge henteu. Pokna ge, “Emih mah moal menta dunya barana ngan rek mihape nu sarupa, kade ulah poho kana temah wadi. Sing inget isuk jaganing geto maneh rek mulang ka kalanggengan. Nu poko, ulah poho kana ibadah. Taya hartina dudunya bari jeung teu dibarengan ku ibadah mah, moal barokah!” nyariosna angger.
          Ceuk sareatmah Emih teh tos teu kedah tihothat milari pakasaban, kawantu kuring geus kasebut nyeunghap. Tapi da indung anu taya tungtung kahemanna, indung nu hamo laas kanyaahna, indung nu moal beakeun kanyaahna, indung nu lain ngan saukur mikiran kuring. Tapi oge lanceuk-lanceuk jeung alo kuring anu hirupna jauh keneh tina walagri mun disawang tina jihad ekonomi mah.
Indung… indung …nu ngandung
mirosea pinuh kaheman
bodas nyacas kanyaahna
indung…indung…nu wungkul ripuh
diriripuh anak sapanjang lalakon umur
nu ridho teu dihayap anak
nu angger heman najan ditambelarkeun
dina hate indung,
anak bagja pinuh kasuka, entong keur indung
anak gumbira pinuh kabagja, entong keur indung.

“Mani anteng kitu euy, keur naon?” Nano batur sakantor kuring ngagebah lamunan. Baricungar-cengir teh heug ngalego kana catetan hareupeun kuring. “Anjir… nulis puisi. Puisi cinta nya?” cenah ngagonjak.
          “Puisi cinta… piraku puisi cinta aya kecap indungan?” cekeng teh baringajembrengkeun keretas meunang nulisan tea hereupeun irungna. Nano kalah ngabarakatak.
          “Aya naon yeuh, mani barungah kitu?” Si Diuh ngelol tina panto, tuluy nyampeurkeun.
          “Ieu, nu keur diajar jadi panyajak. Mani huleng-jentul ti isuk, kakara meunang dua rengkol,” Nano nu nembalan teh.
          “Teuing ku Naon ti kamari ngan inget wae ka Emih. Ka Abah deuih ketah. Padahal Abah mah tos lami ngantunkeunana…” cekeng teh ngabela diri, pedah Si Diuh melongna jiga nu nempo mahluk aneh.
          “Teu damang Emihna?” Nano jiga nu ngadak-ngadak milu prihatin.
          “Henteu. Mun teu damang mah aya nu ngabejaan atuh,” kuring gideug.
          “Perbawa tos lebaran meureun. Biasa sok rus-ras kana dosa,” Bah Idrus nu kakra datang tuluy ngengklokan bae.
          “Enya jigana Bah. Biasa sentimentil anak nu geus ditinggalkeun ku kolotna. Untung we kolot kuring mah lengkep keneh,” Si Diuh diuk bari edeg. Geus kitu tuman-na.
          “Ari eta kaset naon, Bah?” cengkeh teh bari ngareret kana keupeulan Bah Idrus.
          “ Ah, kaset Cianjuran. Moal resep Pa Asep mah…”
          “Saur saha? Resep abdige. Komo jaman aya Abah mah, sok nyetel Cianjuran bae di imah teh ..” tembal teh rikat.
          “Sugan teh kana Iwan Fals wungkul. Sok atuh urang setel ari resep mah. Kabeneran aya lagu kanyaah kolot. Ngenaheun geura,” Bah idrus muru tip na luhur bupet di juru. Teu lila rohangan nu kaitung lega teh geus pinuh ku sora tembang Cianjuran.
        
          Pek tamplokeun kanyaah ka indung bapa
          Meungpeung masih keneh jisimna juntrung
          Mun indung geus ditulis di padung
          Mun bapa geus taya raga badagna
          Kaduhung teu manggih tungtung
          Cimata teubis mayar tunggara
          Kanyaah ka indung ulah ditunda engke
          Mulang kaasih ka bapa entong talangke
          Taya nu weruh iraha indung dipundut
          Moal aya beja iraha bapa rek mulang
          Regepkeun sing pageuh hate
          Larapkeun sing hade-hade
          …………
        
          Sora telepon ngadenger gigireun, megatkeun kanimatan ngaleyepan eusining tembang. Nano rikat ngangkat telepon, sedeng Si Abah geuwat ngarongkong kana tip.
          “Ulah dipareuman, alitan we,” kuring geuwat ngahuit.
          “Kanggo Bapa Asep, telepon ti bumi…
          “Nano ngasongkeun telepon bari popoyongkodan. Ocon.
          Bari hoream ge teu burung ditampanan.
          “Aya naon?” cekeng teh ka pamajikan ti tungtung ditu.
          Sora nu ngingsreuk, ditungtung ku sora nu pegat-pegat.
          Sajongjonan kuring ukur bisa ngahuleng. Gagang telepon nu nepel kana ceuli, karasa tiis cambewek. Tapi sora nu ngamalir ti jerona, lir gumuruhna caah dengdeng nu ngaruntagkeun angen-angen. Tetenjoan asa nadadak ranyay. Karasa aya nu ngadudut jajantung, geus kitu jeroeun dada simpe. Simpe anu parat kana hate. Hawar-hawar jentreng kacapi nyaliara saurat-urat… kanyaah ka indung ulah ditunda engke, mulang kaasih ka bapa entong talangke…
          Ras kana pesenan Emih nu can kacumponan. Memeh lebaran pokna mah. Palay sarung nu jiga nu dipake ku tatangga. Sarung Jawa. Ku kuring teu dibaekeun. Geuwat pesen ka Si Emas, babaturan kantor, nu harita rek mulang ka Jawa. Teu kagok, pesen teh tujuh sakalian.
          “Pa, aya naon Pa?” karasa Si Diuh ngageubig-geubig awak.
          “Ku naon Euy?” sora Nano siga nu hariwangeun pisan. Sora tembang Cianjuran geus leungit sapisan.
          Kuring neuteup nu tiluan. Maranehna keur marelong mani anteb siga nu nungguan engabna biwir kuring.
          “Ari Si Emas geus datang?” pok teh.
          Nano kaciri anu ngarenghap.
          “Sugan teh aya naon. Encan, cenah mah rek minggu hareup,” tambalna.
          Awak karasa beuki lungse. Aya nu merebey maseuhan pipi. Biwir ngagarencem lalaunan, “innalillahi wainna ilahi rojiun…”
          “Saha? Si Emas?” Nano molohok.
          “Emih …”
          Nu tiluan ngadadak jadi arca. Ngajengjen teu ngiceup-ngiceup.***